Dari Jakarta ke Paris: Menyelami PINTU Residency, Tempat Fashion Menemukan Bahasa Bersama

210.58.***.***
15

Mode sering kali dipuji karena apa yang muncul di atas panggung, tetapi beberapa cerita paling bermakna dimulai jauh sebelum tampilan pertama ditampilkan. Mereka dibentuk melalui percakapan, pengalaman bersama, dan kemauan untuk belajar satu sama lain. Semangat itu terletak di jantung PINTU Residency, inisiatif baru yang mengundang desainer muda dari Indonesia dan Prancis untuk hidup, bekerja, dan menciptakan bersama, mengubah pertukaran budaya menjadi mode kontemporer.

Diperkenalkan sebagai bagian dari PINTU Focus Week 2026 dan Tahun Inovasi Perancis–Indonesia 2026, residensi ini menandai babak baru yang signifikan untuk PINTU, inisiatif kolaboratif yang didirikan oleh JF3 Fashion Festival, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI). Sementara PINTU telah menghabiskan lima tahun terakhir untuk membimbing desainer muda melalui bimbingan dan pertukaran internasional, residensi ini membawa filosofi itu selangkah lebih jauh dengan menempatkan desainer dalam komunitas yang tradisi mereka terus menginspirasi mode Indonesia.

Daripada hanya berkolaborasi secara online atau bertemu sebentar selama Fashion Week, peserta menghabiskan empat bulan terbenam dalam budaya lokal, bekerja bersama pengrajin, mempelajari teknik tekstil tradisional, dan mengalami kehidupan sehari-hari bersama. Hasilnya bukan sekadar koleksi pakaian, tetapi dialog antara dua dunia kreatif.

Di Mana Kreativitas Bertemu Komunitas

Dikuriasi oleh Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia, bersama dengan Pascaline Wilhelm dan Carol Meyer, PINTU Residency dikonsep sebagai ruang di mana kolaborasi melampaui desain. Ini mendorong peserta untuk bertukar perspektif, mempertanyakan asumsi, dan menemukan bagaimana kerajinan tangan dapat menjadi bahasa yang sama meskipun memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

Bagi para desainer, pengalaman ini sama pentingnya dengan mendengarkan seperti menciptakan. Waktu yang dihabiskan dengan komunitas pengrajin memungkinkan mereka untuk memahami cerita di balik tradisi tekstil Indonesia—dari ritme tenun tangan hingga simbolisme yang tertanam dalam setiap motif. Pertemuan-pertemuan ini pada akhirnya membentuk koleksi yang terasa otentik daripada interpretatif.

Dua Perjalanan, Dua Kisah

Satu residensi membawa desainer Prancis Mickaël Nana bersama dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica di Lombok. Bekerja sama dengan komunitas penenun lokal, pasangan ini mengembangkan GARUDA, koleksi yang menggabungkan jahitan Barat kontemporer dengan tekstil tenun tangan Lombok dan tradisi songket.

Daripada memperlakukan tekstil warisan sebagai elemen dekoratif, para desainer menempatkannya di pusat proses kreatif. Terinspirasi oleh Garuda mitos sebagai simbol kekuatan, kebebasan, dan identitas, koleksi ini mencerminkan keseimbangan yang matang antara siluet modern dan kerajinan tangan berusia berabad-abad.

Di tempat lain, di Mojokerto, desainer Prancis Lisa Rayar berkolaborasi dengan desainer Indonesia Gabriel Marcella untuk menciptakan AU LARGE. Mengambil inspirasi dari warisan maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini memadukan jahitan bergaya angkatan laut dengan batik, menciptakan pakaian yang terasa sekaligus familiar dan tak terduga.

Meskipun setiap kolaborasi mengikuti jalur kreatif yang berbeda, keduanya menunjukkan bagaimana perendaman budaya yang tulus dapat menghasilkan fashion yang melampaui batas geografis tanpa kehilangan pandangan tentang asal-usulnya.

Melebihi Desain

Yang membuat PINTU Residency sangat menarik adalah kesuksesannya tidak dapat diukur hanya dengan koleksi akhir. Sama pentingnya adalah hubungan yang dibangun sepanjang proses—antara desainer, komunitas pengrajin, mentor, dan institusi budaya.

Program ini mencerminkan pengakuan yang semakin besar bahwa fashion bukan hanya industri tetapi juga praktik budaya. Teknik tradisional dilestarikan tidak dengan memamerkannya di museum, tetapi dengan mengizinkannya berkembang melalui kolaborasi yang bermakna dengan desainer kontemporer.

Filsafat ini juga selaras dengan kemitraan budaya yang lebih luas antara Indonesia dan Prancis, di mana fashion dan kerajinan tangan telah menjadi pilar penting diplomasi kreatif. Melalui inisiatif seperti PINTU Residency, pertukaran budaya melampaui kesepakatan formal dan menjadi sesuatu yang nyata, diungkapkan melalui keterampilan bersama, rasa hormat timbal balik, dan kreativitas kolaboratif.

Debut di Panggung

Kedua GARUDA dan AU LARGE akan melakukan debut panggung mereka di JF3 Fashion Festival 2026, menawarkan kesempatan pertama bagi penonton untuk melihat bagaimana bulan-bulan perendaman budaya telah diterjemahkan menjadi fashion kontemporer.

Namun panggung hanya mewakili bab terakhir dari cerita yang jauh lebih panjang. Di balik setiap siluet terdapat percakapan dengan pengrajin, jam yang dihabiskan di bengkel, makan bersama, penemuan budaya, dan kemauan desainer dari latar belakang berbeda untuk belajar satu sama lain.

Dalam industri fashion yang semakin ditentukan oleh koneksi global, PINTU Residency menawarkan pengingat yang menyegarkan bahwa inovasi yang bermakna dimulai bukan dengan tren, tetapi dengan orang. Dengan membuka pintu bagi kolaborasi yang tulus antara Indonesia dan Prancis, program ini menunjukkan bahwa masa depan fashion dibangun sama banyaknya pada pemahaman budaya seperti kreativitas, membuktikan bahwa desain terbaik sering muncul ketika dunia yang berbeda bersatu.

pintuincubator.co.id
jf3.co.id

로그인한 회원만 댓글 등록이 가능합니다.

정보공유

KR | ID | EN
  • IDR
  • KOR
8.16 =0.00

2026.07.28 KEB 하나은행 고시회차 1046회

다가오는 한인 행사일정

  • 등록 된 일정이 없어요!