Selama Perang Tiongkok-Jepang, beberapa fakultas kedokteran di Jepang melakukan eksperimen yang tidak etis dengan transfusi darah hewan atau darah yang diawetkan ke pasien. Tujuannya adalah untuk mengobati korban luka perang, tetapi dalam kesulitan mendapatkan darah, masalah etika diabaikan. Hasil eksperimen tersebut menunjukkan bahwa beberapa pasien meninggal segera setelah transfusi dan mengalami efek samping serius lainnya. Analisis menunjukkan bahwa keinginan untuk mendukung perang melemahkan batasan etika terhadap eksperimen yang tidak etis pada saat itu.