누타닉스: 금융 산업에서 AI 도입은 빠르지만, 관리가 여전히 'PR'

127.0.***.***
13
  • 한국어
  • 바하사
  • 영어

KOMPAS.com - "AI boom" alias ledakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), membuat banyak industri ramai-ramai mengadopsinya. Termasuk industri jasa keuangan.

Walaupun adopsinya semakin pesat, banyak perusahaan yang ternyata masih menghadapi persoalan mendasar. Tata kelola dan kesiapan infrastruktur masih menjadi "PR" alias tantangan.

Hal itu terungkap dalam laporan terbaru perusahaan software cloud global Nutanix, bertajuk Financial Sector Enterprise Cloud Index 2026. 

Laporan ini melibatkan 1.600 eksekutif di bidang cloud, teknologi informasi, dan engineering dari berbagai negara.

Berdasarkan laporan tersebut, tantangan terbesar implementasi AI di sektor keuangan bukan lagi soal teknologinya, melainkan bagaimana perusahaan mengelola, mengawasi, dan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam proses bisnis sehari-hari.

"Di seluruh wilayah Asia Pasifik dan Jepang (APJ), persaingan kini bukan lagi soal siapa yang memiliki model AI paling canggih, tetapi siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab," kata Vice President dan General Manager APJ Nutanix, Jay Tuseth dalam keterangan resmi yang diterima KompasTekno.

Masalahnya bukan semata soal teknologi

Banyak orang mengira bahwa tantangan AI akan berkutat padakurangnya daya komputasi, mahalnya perangkat keras, atau terbatasnya akses terhadap chip AI. Namun, hasil survei Nutanix justru menunjukkan hal berbeda.

Sebanyak 38 persen responden menyebut proses bisnis dan tata kelola perusahaan menjadi hambatan terbesar dalam memperluas penggunaan AI di organisasi mereka.

Sementara itu, 34 persen lainnya menilai persoalan organisasi seperti kurangnya keahlian, keterbatasan talenta, hingga belum selarasnya arah kebijakan manajemen, menjadi tantangan utama.

Sebaliknya, hanya 28 persen responden yang menganggap kendala teknis sebagai masalah terbesar.

Temuan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan sebenarnya sudah memiliki teknologi yang dibutuhkan, tetapi belum memiliki aturan, prosedur, maupun struktur organisasi yang siap mengelola AI dalam skala besar.

Dalam praktiknya, divisi bisnis biasanya ingin bergerak cepat memanfaatkan AI demi meningkatkan produktivitas atau mengejar target pertumbuhan.

Di sisi lain, tim teknologi informasi harus memastikan seluruh penggunaan AI tetap memenuhi aturan keamanan, kepatuhan regulasi, dan perlindungan data.

Ketidakseimbangan antara kebutuhan bisnis dan kemampuan pengawasan inilah yang kemudian memunculkan fenomena baru bernama "shadow AI".

Fenomena "shadow AI" mulai mengkhawatirkan

Shadow AI merujuk pada penggunaan aplikasi AI oleh karyawan tanpa persetujuan atau pengawasan resmi dari tim teknologi informasi perusahaan.

로그인한 회원만 댓글 등록이 가능합니다.

인니 핫 뉴스

KR | ID | EN
  • IDR
  • KOR
8.66 -0.01

2026.06.29 KEB 하나은행 고시회차 1010회

다가오는 한인 행사일정

  • 등록 된 일정이 없어요!